Aku baru saja membuka dokumen yang memuat daftar deposan terbesar Bank Semesta, melingkari begitu banyak data menarik saat telepon di meja kerjaku berbunyi.
“Ada yang ingin menemui kau, Thomas.” Itu suara Maggie.
“Siapa?” Aku tertegun sejenak, ini hari Sabtu. Aku tidak pernah bilang ke siapapun kalau masuk kantor hari ini—meski ada banyak penghuni gedung yang lembur di hari Sabtu.
“Mana aku tahu. Dia tidak bilang.” Maggie menjawab ketus.
“Bilang aku sibuk. Suruh dia datang kembali minggu depan, atau tahun depan.” Aku mencoba bergurau, sepertinya tugas menumpuk yang kuberikan pagi ini pada Maggie membuat mood buruknya kambuh.
“Itu dia, Thom. Percuma. Orangnya sudah menuju ke ruangan kau. Tadi aku berusaha mencegahnya, dia malah melotot galak. Nenek lampir.” Ternyata bukan tugasku yang membuat Maggie kesal.
Pintu ruanganku diketuk.
Aku meletakkan gagang telepon. Apakah hari ini orang mulai lupa sopan-santun bertamu? Baru semalam, Ram dan sopirnya merangsek ke kamar hotel, membangunkan dini hari buta. Sekarang ada lagi tamu yang, gumamanku lenyap, tamu itu bahkan sudah mendorong pintu ruangan.
“Kau bisa saja membohongi wartawan dan editor lain, Thom. Tetapi tidak padaku.” Gadis itu sudah memasuki ruangan, langkah kakinya sigap, menatapku tajam.
“Julia?” Aku menepuk dahi, “Apa yang sedang kau lakukan di kantorku?”
“Mereka boleh saja bodoh, tidak tahu siapa kau sebenarnya, Thom. Tetapi aku tidak, aku sekarang tahu siapa kau.” Julia berhenti persis di ujung meja, menyibak rambut panjangnya, ekspresif melemparkan satu bundel dokumen, “Seluruh resume tentang kau hanya menulis Thomas, bapak-ibunya meninggal sejak kecil, tidak diketahui siapa nama mereka. Thomas, dibesarkan oleh sekolah berasrama sejak usia enam tahun. Sisanya gelap. Thomas, murid paling cemerlang yang dimiliki sekolah, aktif dalam banyak kegiatan, menunjukkan minat yang besar terhadap ekonomi, politik dan psikologi manusia, melanjutkan ke universitas ternama, tapi tidak ada yang tahu riwayat keluarganya, Thomas yang bla-bla-bla.”
Aku masih menatap Julia, setengah bingung kenapa dia ke kantorku?
“Lantas bagaimana kalau kau kupanggil dengan ‘Tommi’, hah?” Julia bersidekap, tersenyum sinis, “Apakah panggilan itu bisa menjelaskan banyak hal? Tommi, cucu laki-laki satunya dari keluarga Liem-Edward. Tommi, keponakan langsung dari Om Liem. Namamu memang tidak ada di mana-mana dalam group besar itu, juga dalam daftar pemegang saham Bank Semesta, tapi jelas kau adalah related party, kesaksian, pendapat profesional, dan sebagainya, menjadi sampah bila itu datang dari pihak terafiliasi. Tidakkah kau diajari soal itu di sekolah bisnis, Tommi?”
Aku menelan ludah, menatap wajah cantik Julia yang seperti habis memenangkan undian berhadiah sebuah pulau pesiar, “Darimana kau tahu?”
“Anggap saja wartawan dengan predikat terbaik ini, sejak turun dari pesawat besar itu, telah mengerjakan PR-nya dengan baik, Tommi. Memasukkan nama kau di mesin pencari internet, percuma, tidak ada sejarah hidup kau. Membongkar seluruh berita-berita lama di pusat dokumentasi kami juga sia-sia, catatan masa kecil kau seolah biasa-biasa saja, sama dengan ribuan lulusan terbaik sekolah bisnis lainnya. Tapi aku bisa memperolehnya, belum pernah aku seantusias ini mengobrak-abrik informasi yang ada, termasuk mengancam pembantu di rumah Om Liem misalnya.”
Aku mengusap dahi, terdiam sejenak, mulai mengerti situasinya, lantas tertawa kecil, “Astaga, Julia. Aku baru tahu kalau sejak dari pesawat itu kau begitu menyukaiku.”
Wajah jumawa Julia terlipat, “Maksud kau?”
“Lihatlah, hanya orang yang begitu menyukaiku yang amat penasaran dengan masa laluku, bukan? Jangan-jangan kau menyukaiku sejak pandangan pertama. Kabar buruk bagi kau, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama.”
“Tutup mulut kau, Tommi.” Julia melotot, berseru kesal.
Aku tertawa lagi, “Aku benar, kau semakin cantik jika sedang marah.”
Julia hampir saja melepas sepatunya, melemparkannya padaku, tapi sedetik dia menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan diri, lantas bergaya menarik kursi, duduk di depanku.
“Edisi breaking news kami terbit besok siang, Thom.” Dia menatapku datar, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, melupakan marahnya barusan, “Deadline tulisan wawancara itu sore ini. Tetapi aku bisa saja meminta pemimpin redaksi menunggu naskahku hingga detik terakhir sebelum naik cetak tengah malam nanti. Bahkan naskah liputanku tidak perlu masuk ke tangan editor. Bahkan aku bisa meminta perubahan headline dan cover depan. Tidak ada lagi hasil interview kau di pesawat, wajah tampan kau di cover depan. Tidak ada lagi berita tentang krisis dunia, melainkan digantikan dengan liputan yang lebih panas dan aktual.”
Julia diam sejenak, masih menatapku.
“Aku tidak akan main-main lagi, Thom. Kau tahu, sebelum menemui kau di restoran tadi pagi, aku sudah mencari tahu di mana Om Liem. Dia raib. Pihak polisi menolak menjelaskan, mungkin karena mereka malu, sedang berusaha mati-matian memperbaiki kerusakan sebelum masyarakat luas tahu, berusaha sekuat tenaga menutup-nutupi sebelum hari Senin pengumuman tentang penutupan Bank Semesta dilakukan. Tetapi dari salah-satu petugas yang kusumpal dengan uang, aku tahu mereka mengepung rumah Om Liem semalam, dan taipan tua, paman kau itu, kabur seperti orang yang permisi numpang ke toilet. Kau ada di sana tadi malam, bahkan boleh jadi kau lah yang membantu Om Liem kabur. Ini serius, Thom, aku wartawan profesional, aku tidak sakit hati kau olok-olok di atas pesawat itu, tapi jika kau tidak mau bicara terus terang apa yang sedang terjadi, edisi breaking news review kami besok akan berisi wajah Om Liem, buronan dan liputan tentang bobroknya Bank Semesta.
“Wartawan dan editor lain mungkin mengunyah mentah-mentah ceramah kau tadi pagi, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Pendapat kau boleh jadi benar, dampak sistemik bisa jadi bukan ilusi, dan bahaya besar sedang mengancam institusi keuangan, bahkan ekonomi nasional, tapi kau tidak dalam posisi pihak independen yang berhak memberikan pendapat. Kau berkepentingan. Jadi sekali lagi, Thom, bicara terus terang padaku, atau media kami akan lebih sibuk membahas tentang bobroknya Bank Semesta, dengan kesimpulan tutup saja segera bank itu, tangkap secepatnya Om Liem dimanapun dia berada, termasuk orang yang membantunya lari tadi malam.”
Julia bahkan tidak menarik nafas untuk menuntaskan kalimat ancamannya.
Aku (yang) menghela nafas pendek. Sebagai pemain yang baik dalam setiap permainan, aku tahu persis situasiku terdesak. Julia menunggu, dan mata hitamnya tidak berkedip sekalipun.
Suara dering telepon di meja kerjaku memecahkan senyap.
“Ada apa lagi, Mag?”
“Situasi darurat, Thom. Security lobi baru saja meneleponku, bilang ada beberapa polisi berpakaian sipil menanyakan lantai dan ruangan kerja kau. Mereka sudah naik lift.”
Polisi? Aku sudah melempar gagang telepon, bergegas menumpuk dokumen yang sedang kubaca, memasukkannya dalam box kecil yang sudah disiapkan Maggie.
“Apa yang terjadi?” Julia berdiri, sedikit bingung.
Mereka ternyata cukup tangguh. Aku tidak menjawab pertanyaan Julia. Aku tahu cepat atau lambat polisi akan mencariku. Selain alamat rumah—yang jarang kutinggali, kantor adalah cara terbaik menemukanku. Tanganku cekatan mengangkat box dokumen.
“Apa yang terjadi, Thom.” Julia berseru sebal didiamkan.
“Aku harus lari, Julia.” Hanya itu jawabanku, bergegas keluar ruangan.
Maggie menyerahkan dokumen tersisa, menumpuknya di atas box.
“Kau akan bilang ke mereka, aku tidak masuk kantor hari ini, tidak tahu-menahu, tidak mengerti.”
Maggie mengangguk, wajahnya tegang.
“Jika mereka terus mendesak, kau telepon pengacara kantor, minta ditemani dalam interogasi.”
Maggie mengangguk, wajahnya berubah pias.
“Tetap berhubungan denganku Mag, kau punya nomor telepon genggamku yang tidak diketahui orang lain. Aku akan terus meminta bantuan dari kau. Paham?”
Maggie mengangguk, berpegangan dengan partisi ruangan, berusaha menenangkan diri. Situasinya dengan cepat berubah menegangkan.
Aku tidak sempat memperhatikan wajah pucat Maggie, aku sudah melangkah keluar dari kantor, berlari-lari kecil di sepanjang lorong menuju lift.
“Thom, apa yang terjadi?” Julia kesal menyusul, berusaha menahan lariku.
Aku hendak menyuruhnya menyingkir, tapi teriakanku tersumbat, segera balik kanan, dengan cepat menyelinap masuk kantor orang lain. Empat polisi berpakaian sipil persis keluar dari lift, melangkah di lorong, mereka pasti bergegas menuju kantorku.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Resepsionis kantor tempatku menyelinap bertanya, tersenyum.
Aku tidak mendengarkan, menatap empat polisi yang melintas di depanku, hanya dibatasi oleh dinding kaca transparan. Sekali saja mereka menoleh, mereka akan melihatku yang sedang berdiri membawa box dokumen.
“Mau bertemu dengan siapa, Pak?”
Aku sudah meninggalkan resepsionis—yang sekarang menatapku bingung. Kembali ke lorong gedung menuju lift. Tidak bisa. Dua polisi berpakaian sipil menjaga pintu lift. Mereka sepertinya belajar banyak dari kejadian tadi malam, tidak meninggalkan celah untukku kabur. Juga di tangga darurat, dua polisi menjaga pintunya. Aku mendesah pelan, kembali menyelinap ke kantor orang, bersembunyi sebentar.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Resepsionis kembali bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Thom?” Julia juga terus bertanya.
Aku menatap wajah ingin tahu Julia, “Kau mau tahu banyak hal, Julia?”
Gadis itu balas menatapku, bingung, tapi dia mengangguk.
“Kau bantu aku keluar dari gedung ini, maka akan kuceritakan semuanya pada kau. Ekslusif. Kau bahkan bisa mendapatkan promosi dari cerita ini.”
Julia berhitung dengan situasi, “Semuanya?”
“Ya, semuanya.”
“Tidak ada yang ditutup-tutupi?”
“Ayolah Julia. Aku boleh jadi tipikal orang yang tidak kau sukai, menyebalkan. Tapi aku selalu memegang janjiku. Kau akan mendengar semuanya. Terserah kau mau menulis apa setelah itu, dunia ini jelas tidak hitam-putih.” Aku berseru jengkel.
Julia mengangguk. Berpikir cepat, lantas melangkah keluar.
“Mau bertemu dengan siapa, Pak?” Sepertinya resepsionis kantor tempatku menyelinap terlalu banyak menerima pelatihan keramah-tamahan, lagi-lagi dia bertanya dengan wajah penuh senyuman. Tidak merasa aneh melihat kami yang keluar masuk kantornya sejak tadi.
Dan sebelum dia sempat bertanya lagi, mendadak suara alarm meraung kencang, membuat senyumnya terlipat. Kencang sekali. Membahana di langit-langit setiap lantai gedung.
Aku mendongak, bertanya-tanya.
Julia kembali masuk, tersenyum jahat, “Aku baru saja memukul alarm kebakaran gedung, Thom.”
Aku menelan ludah.
Ruangan depan kantor tempatku menyelinap dalam hitungan detik sudah dipenuhi orang-orang yang berlari keluar, berebut—termasuk resepsionis amat ramah itu. Hilang sudah senyum manisnya, dia justeru berteriak paling panik, “Kebakaran! Kebakaran!”
“Bergegas, Thom. Kita bisa kabur dari polisi dalam situasi seperti ini.” Julia sudah mengambil sebagian dokumen dalam box, berlari dalam keramaian menuju tangga darurat.
Jenius. Aku akhirnya menghembuskan nafas, mengangguk.
Sepertinya aku telah menemukan teman setara dalam pelarian ini.
***
Meski hari Sabtu, tetap banyak karyawan yang masuk kantor di gedung dua puluh empat lantai itu. Lobi, parkiran, lorong, tangga darurat, segera dipenuhi orang-orang. Dalam situasi seperti ini, tidak mudah mengenali siapa. Aku melewati dua polisi berpakaian sipil yang bingung melihat gelombang orang berlarian, mereka terpaksa menyingkir. Di lobi ada beberapa polisi lainnya yang berjaga, celingukan, memeriksa, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun, selain justeru mengikuti komando evakuasi dari petugas security gedung.
Julia memimpin jalan—aku mendengus dalam hati untuk dua hal. Satu, untuk jelas-jelas aku lebih tahu arah jalan dan tempat parkir mobilku dibanding dia, karena ini gedung perkantoranku, dua, untuk sial, saat berdesak-desakan turun tadi, dengan box penuh dokumen aku terjerambab. Kakiku terkilir. Tidak serius, tapi cukup menghambat kecepatan, membuatku terpincang-pincang menerobos kerumunan.
“Mana mobil kau?” Julia berseru, meningkahi keributan orang yang menonton, orang-orang yang sibuk mendongak, bertanya-tanya di lantai berapa kebakaran terjadi. Suara raungan alarm terdengar hingga jalan, ditingkahi suara sirene mobil pemadam kebakaran milik komplek perkantoran.
Aku menunjuk area parkiran, meraih kunci di saku, sambil satu tangan mengepit box. Mengeluh, dengan tumit kaki yang masih terasa nyilu, aku tidak bisa mengemudi.
“Kau bisa mengemudi?” Aku berseru.
“Tentu saja bisa.” Julia menjawab kasar, tersinggung.
“Eh, maksudku kau bisa mengemudi mobil ini.”
Wajah marahnya segera terlipat, dia mematung sejenak.
Aku sudah melemparkan kunci.
Julia bergumam entahlah, menyeka pelipis, lantas membuka pintu mobil. Aku melemparkan box sembarangan, dokumennya berserakan, ikut masuk, menghempaskan punggung di jok berlapis kulit asli.
Lima belas detik berlalu, kami sudah meninggalkan keributan halaman gedung. Berpapasan dengan mobil pemadam kebakaran lain dengan sirene meraung, baru datang dari gardu pemadam terdekat.
Aku melepas sepatu, meluruskan kaki, berusaha memberikan nafas ke tumitku yang terkilir. Julia menekan pedal gas lebih dalam, meski dia sedikit gugup dengan interior mobil, termasuk sedikit pias dengan betapa bertenaganya mobil yang dia kemudikan—mobil seperti terbanting saat digas, gadis di sebelahku itu cepat menyesuaikan diri. Aku belum bisa menghela nafas lega. Setelah keributan pulih, petugas tahu alarm itu palsu, Maggie tidak akan bisa menahan lama polisi.
Telepon genggamku berdering.
“Kau dimana, Thom?” Suara Ram.
“Aku sedang kabur, dimana lagi?” Aku balas berteriak.
Ram tertawa prihatin, “Maaf, Thom. Aku persis di parkiran gedung kantor kau, hendak memastikan apakah dokumen Bank Semesta yang kukirim sudah diterima staf kau. Astaga, ramai sekali di sini. Kupikir ada kejadian apalah. Om Liem bersama kau, Thom?”
“Om Liem di rumah peristirahatan Opa, Waduk Jatiluhur. Dia aman di sana.”
Ram bergumam sesuatu, syukurlah, atau thank god, aku tidak mendengar jelas kalimatnya.
“Kau sudah terima dokumennya?”
“Sudah, Ram.”
“Sudah kau baca?”
“Astaga, kau dengar, Ram, sekarang bukan waktunya untuk bercakap-cakap. Hubungi aku kalau ada kabar penting saja.” Aku segera mematikan telepon genggam. Menghela nafas panjang, kupikir tadi telepon dari siapa lagi, atau kejutan baru lagi.
“Ini hebat, Thom.” Julia berseru dari belakang kemudi.
Aku menoleh.
Gadis itu seperti lupa kalau dia barusaja mengancamku di ruangan kerja, atau baru saja lari dari polisi yang hendak menangkapku, sekarang wajahnya antusias, tangannya kokoh memegang kemudi.
“Mobil ini ada asuransinya, kan?” Julia balas menoleh, nyengir, “Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ngebut, Thom. Kalau sampai menabrak sesuatu, aku tidak bisa menggantinya.”
Aku balas nyengir. Mobil melesat menyalip tiga kendaraan sekaligus di jalan protokol Jakarta. Julia tidak bohong, dia pandai mengemudi.
“Sayangnya mobil hebat kau ini tidak ada GPS-nya, Thom. Apa susahnya kau membeli sistem navigasi yang hebat, jadi kita bisa tahu jalan mana saja yang harus ditempuh, tahu jalan mana saja yang macet. Apa gunanya mobil sehebat ini kalau kau tidak bisa ngebut?”
“GPS?” Aku bertanya, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah telah kulakukan.
“Iya, GPS, Thom. Global positioning system, sistem navigasi sekaligus alat tracking. Kau sepertinya bukan anak muda yang suka gadget, Thom.”
Aku mengutuk Julia dalam hati, tentu saja aku tahu apa itu GPS. Pertanyaanku retoris, karena aku sedang mengingat kekeliruaan apa yang telah kulakukan selama kabur semalam.
“Ada dua jenisnya, Thom. GPS untuk navigasi atau tracking. Hari ini, jangankan mobil mahal, truk untuk operasional tambang, truk peti kemas, mobil box kurir, bus, ambulans, bahkan taksi semua dilengkapi GPS. Setidaknya GPS tracking untuk mengetahui posisi mereka di mana, demi efisiensi dan alasan keamanan armada, Thom.” Julia sebaliknya terus menjelaskan, menganggap seringai burukku tanda tidak mengerti.
Aku benar-benar mematung.
“Kemana tujuan kita, Thom?” Julia bertanya, antusias menyalip lagi deretan mobil, dia bahkan berani mengambil marka jalan sebelah kiri, membuat pejalan kaki berteriak mengacungkan tinju.
Astaga, aku sungguh telah melakukan kesalahan besar. Apa kata Julia barusan? Ambulans? Aku tahu GPS tracking. Benda kecil berbentuk chip itu dibenamkan di jendela, pintu atau bagian tertentu mobil, lantas memancarkan sinyal secara kontinu untuk memberitahu posisi mobil. Satelit menangkap data itu, sehingga pemilik mobil, bisa dengan cepat membaca di mana saja armada kendaraan yang mereka miliki berkeliaran di jalan. Aku menepuk dahi. Rumah sakit yang mengirimkan ambulans untuk Om Liem tadi malam pastilah memiliki mekanisme ini. Ambulans.
“Kita sekarang kemana, Thom?” Julia bertanya lagi.
“Tol, masuk pintu tol keluar kota.” Aku mendesis. Suaraku bergetar oleh kecemasan.
Sekali saja polisi mendatangi rumah sakit, sekali saja mereka meminta data posisi ambulans milik mereka yang dilarikan semalam, dengan segera mereka tahu posisi Om Liem.
“Ngebut, Julia!” Aku menyuruh.
“Kau serius?” Julia tertawa.
“Aku lebih dari serius, Julia! Ngebut sebisa kau, jangan pedulikan banyak hal, mobil ini dilindungi asuransi berkali-kali lipat nilainya.”
Julia mengangguk mantap, rahangnya mengeras, dia menekan pedal gas lebih dalam. Seperti peluru yang ditembakkan, mobil yang dikemudikan Julia melesat menaiki fly over, langsung menuju pintu tol.
***
bersambung,,,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar